about fantasy movies

April 14, 2009 at 1:46 am (Uncategorized)

Fantasy films are films with fantastic themes, usually involving magic, supernatural events, make-believe creatures, or exotic fantasy worlds. The genre is considered to be distinct from science fiction film and horror film, although the genres do overlap.

The boundaries of the fantasy literary genre are not well-defined, and the same is therefore true for the film genre as well. Categorizing a movie as fantasy may thus require an examination of the themes, narrative approach and other structural elements of the film.

For example, much about the Star Wars saga suggests fantasy, yet it has the feel of science fiction, whereas much about Time Bandits (1981) suggests science fiction, yet it has the feel of fantasy. Some film critics borrow the literary term Science Fantasy to describe such hybrids of the two genres.

Animated films featuring fantastic elements are not always classified as fantasy, particularly when they are intended for children. Bambi, for example, is not fantasy, nor is 1995′s Toy Story, though the latter is probably closer to fantasy than the former. The Secret of NIMH from 1982, however, may be considered to be a fantasy film because there is actual magic involved.

Other children’s movies, such as Walt Disney‘s 1937 classic Snow White and the Seven Dwarfs are also difficult to categorize. Snow White features a medieval setting, dwarven characters, the use of sorcery, and other tropes common to fantasy. Yet many fans of the genre do not believe such movies qualify as fantasy, placing them in instead in a separate fairy tale genre.

Superhero films also fulfill the requirements of the fantasy or science fiction genres but are often considered to be a separate genre. Some critics, however, classify superhero literature and film as a subgenre of fantasy (Superhero Fantasy) rather than as an entirely separate category.

Films that rely on magic primarily as a gimmick, such the 1976 film Freaky Friday and its 2003 re-make in which a mother and daughter magically switch bodies, may technically qualify as fantasy but are nevertheless not generally considered part of the genre.

Surrealist film also describes the fantastic, but it dispenses with genre narrative conventions and is usually thought of as a separate category. Finally, many Martial arts films feature medieval settings and incorporate elements of the fantastic (see for example Crouching Tiger, Hidden Dragon), but fans of such films do not agree if they should also be considered examples of the fantasy genre.

Permalink Leave a Comment

January 6, 2009 at 1:44 am (Uncategorized)

boys like girls – heels over head songs
Free songs | free Mp3s

Permalink Leave a Comment

selamatkan anak-anak palestina

January 6, 2009 at 1:34 am (Uncategorized)

Aksi brutal pesawat tempur Israel dan kapal tempurnya dengan menggempur wilayah barat kota Gaza patut disayangkan. Perilaku biadab Israel yang digerakkan menggunakan pesawat jenis F-16 buatan Amerika,membumihanguskan palestina, merenggut ratusan jiwa tak berdosa karena sikap egoisme dan sadisme Israel

yang rela menjadikan masyarakat sipil tak berdosa ini jadi korban politik. Yang paling penting untuk diselamatkan adalah anak-anak dan pelajar. anak dan pelajar Palestina adalah aset terbesar.

Kalau masyarakat terpelajar Palestina masih bisa bertahan hidup, maka merakalah yang akan membesarkan dan menjaga martabat bangsanya lepas dari penjajahan Israel. Karena hanya masyarakat yang terpelajarlah yang mempunyai nasionalisme kuat.

Permalink Leave a Comment

fun video

November 25, 2008 at 8:56 am (Uncategorized)

Permalink Leave a Comment

About Compiz Fusion

November 18, 2008 at 1:33 am (Uncategorized)

Permalink Leave a Comment

Hobi Menulis

November 4, 2008 at 1:45 am (Uncategorized)

Tiap kali saya membuat cerpen, entah kenapa setiap kali ceritanya temanya hampir rata-rata sama. sejauh ini  bercerita kehidupan cinta remaja yang berkisar di kalangan SMP/SMA. Sampe ngerasa bosen kalo ceritanya itu-itu aja.

dan ada yang bikin gw bener-bener feeling like underpressured, setiap kali  bikin cerita, semangat bukan main. cerita sudah hampir jadi plotnya. Tapi, hasilnya tiap dibaca malah jadi rada aneh. Bahasa-bahasa yang digunakan suka divariasiin biar jadi lebih seru. gw ngerasa, gw bener-bener harus baca banyak novel.

pernah berpikir untuk ikut pelatihan menulis. Tapi, saya kan bosenan…;-(

Dikutip dari:

www.Zhoma69.blogspot.com

Permalink Leave a Comment

About My School

October 28, 2008 at 1:46 am (my school)

Yayasan Dian Didaktika secara resmi berdiri sejak 22 Februari 1984. pendirian yayasan ini diprakarsai oleh Dra. Nunuk Murdiati Sulastomo, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan. Yayasan ini mengawali kegiatannya dengan menyelenggarakan seminar/simposium, kemudian pada tahun 1985 diikuti dengan penyelenggaraan pendidikan formal.

Dalam penyelenggaraan pendidikan formal ini, Dra. Murti Sabarini, Dra. Hendriati Adham dan Dra. Yati Maryati adalah pribadi-pribadi yang merintis dan sehari-hari menekuni gerak dan kjalannya Pendidikan Islam Dian Didaktika hingga sekarang.

Dalam rangka mewujudkan tujuan dan program Yayasan di bidang Pendidikan Formal, Yayasan pada tahun 1985 membuka Taman Kanak-Kanak Islam. Taman Kanak-Kanak tersebut pada awalnya menempati garasi rumah keluarga Dr. H. Sulastomo, di Cinere, Depok. Pada awal berdirinya, jumlah murid TK ada 13 anak. TK Islam Dian Didaktika kini dipimpin oleh Dra. Nur Aini Setiawati.

Selanjutnya pada tahun 1986, Yayasan membuka Sekolah Dasar Islam, di Jl. Rajawali, Cinere, Depok. Pada awal berdirinya, jumlah murid SD ada 11 orang anak. Jumlah murid yang terdaftar setiap tahun Alhamdulillah terus bertambah, sehingga pada tahun 2005 jumlah murid SD mencapai 600 orang. SD Islam Dian Didaktika kini dipimpin oleh Kepala Sekolah Dra. Mariyatullaela. Sejak pertama meluluskan muridnya pada tahun 1992, SD Islam Dian Didaktika telah menunjukkan prestasi terbaik di rayonnya. Alhamdulillah, prestasi yang baik terus dapat dipertahankan hingga kini.

Untuk menampung lulusan dari SD Islam Dian Didaktika, pada tahun 1992 Yayasan membuka pendidikan tingkat SMP. Jumlah murid pada awal berdirinya SMP Islam Dian Didaktika sebanyak 13 orang siswa, yang sebagian besar merupakan lulusan dari SD Islam Dian Didaktika. Kini Jumlah siswa SMP Islam Dian Didaktika sebanyak 196 siswa, Jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh Drs. Budiyanto, M.Pd. sejak meluluskan siswa-siswinya yang pertama, SMP Islam Dian Didaktika menunjukkan prestasi yang membanggakan, dengan nilai NEM terbaik di rayonnya. Al hamdulillah prestasi itu dapat dipertahankan terus hingga kini. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya pada tahun 2005 ini, SMP Islam Dian Didaktika mendapatkan NEM tertinggi dari 123 SMP Negeri dan Swasta di Depok yang ikut ujian Nasional. Namun yang lebih pantas untuk disyukuri adalah disamping prestasi-prestasi tersebut pendidikan Islam Dian Didaktika merupakan lembaga pendidikan yang Alhamdulillah, selalu mengedepankan pembinaan budi pekerti yang luhur terhadap peserta didiknya. Selanjutnya Yayasan Dian Didaktika pada tahun 2005 telah Di buka Kelompok Bermain (KB) untuk tahun ajaran 2005/2006 dengan jumlah murid 45 siswa, saat ini Yayasan Dian Didaktika juga sedang membangun gedung baru untuk SMA yang di perkirakan selesai pembangunannya tahun 2006, dan akan di buka pendaftaran mulai tahun ajaran 2007.

Permalink Leave a Comment

Sekolahku, Dian Didaktika

October 21, 2008 at 7:32 am (Uncategorized)

Sekolahku, SMPI DIAN DIDAKTIKA.

Pada tahun 1992, SMP Dian Didaktika resmi didirikan.  SMP Islam Dian Didaktika menunjukkan prestasi yang membanggakan. Al hamdulillah prestasi itu dapat dipertahankan terus hingga kini. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya pada tahun 2005 ini, SMP Islam Dian Didaktika mendapatkan NEM tertinggi dari 123 SMP Negeri dan Swasta di Depok yang ikut ujian Nasional. Namun yang lebih pantas untuk disyukuri adalah disamping prestasi-prestasi tersebut pendidikan Islam Dian Didaktika merupakan lembaga pendidikan yang Alhamdulillah, selalu mengedepankan pembinaan budi pekerti yang luhur terhadap peserta didiknya.

Permalink Leave a Comment

Cara Belajar yang Baik

October 21, 2008 at 7:22 am (Uncategorized)

Menurut saya, cara belajar yang baik itu adalah :

  • Pandai-pandai mengatur waktu.
  • Belajar dengan sistem menyicil, kecuali untuk beberapa mata pelajaran.
  • Bisa menyeimbangkan waktu belajar dan istirahat.
  • Menggunakan waktu yang ada untuk belajar seefektif mungkin.
  • Tidak main-main, seperti sms-an di kala belajar/membuat PR.
  • Belajar/membuat PR di kamar/ruangan yang sepi dan tidak terganggu oleh aktivitas luar.

Tapi entah kenapa, saya sama sekali tidak bisa melakukan itu semua. Tidak ada satupun. Saya belajar dengan menggunakan sistem baca sedikit, lempar bukunya. Waktu pun hampir setiap hari saya gunakan untuk berada di depan komputer. Setiap kali sedang belajar/buat PR, pasti saya tambah dengan selingan smsan atau melakukan aktivitas lain. Kalau lagi belajar di kamar, pasti di luat berisik. Istirahat itu selalu jam 12.00 pada tengah malam. Hah, cukuplah sudah hidup menyiksa (atau memang saya yang menyiksa diri sendiri? :D)

Permalink Leave a Comment

Hello world!

August 19, 2008 at 1:20 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.